I. PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Fisiologi tumbuhan merupan ilmu yang mempelajari tentang proses, fungsi,
dan aktivitas suatu organisme dalam menjaga dan mengatur kehidupannya.
Seperti halnya cabang ilmu biologi lain, fisiologi tumbuhan juga
mempelajari proses kehidupan yang sering mirip atau identik pada banyak
organisme. Fisiologi tumbuhan sebenarnya merupakan terapan dari fisika
dan kimia modern untuk memahami tumbuhan. Karena itu, kemajuan fisiologi
tumbuhan hampir seluruhnya bergantung pada kemajuan dibidang fisika dan
kimia. Kini teknologi ilmu fisika terapan menyumbangkan peralatan untuk
membantu penelitian dibidang fisiologi tumbuhan serta pengetahuan dasar
yang dipakai untuk menafsirkan berbagai hasilnya.
Dalam mempelajari fisiologi tumbuhan, yang paling mendasar perlu di
pelajari adalah ilmu tentang sel . Tumbuhan termasuk organisme
multiseluler yang terdiri dari berbagai jenis sel terspesialisasi yang
bekerja sama melakukan fungsinya. Sel tumbuhan meliputi berbagai organel
seperti dinding sel, sitoplasma, membran plasma, retikulum endoplasma,
badan golgi, vakuola, badan mikro, sferosom, rangka sel, ribosom,
mitokondria, plastida dan nukleus. Masing-masing organel memiliki
struktur dan fungsi yang berbeda. Fotosintesis, metabolisme, pertumbuhan
serta perkembangan tumbuhan merupakan aktivitas sel-sel tumbuhan.
Misalnya organel plastida yang berperan dalam fotosintesis tumbuhan.
Tumbuhan tingkat tinggi tubuhnya tersusun oleh sejumlah sel, baik sel
hidup maupun sel mati. Sel-sel hidup memiliki persamaan dan perbedaan
dalam struktu dan fungsinya. Persamaannya adalah sel itu mempunyai
dinding sel, terisi plasma yang terbungkus oleh membran plasma.
Sedangkan perbedaannya terutama diakibatkan oleh lingkungan dan faktor
genetik, yaitu akibat proses diferensiasi yang mengikuti proses
pembelahan sel.
Pemahaman tentang sel tumbuhan diperlukan dalam bahasan fisiologi
tumbuhan selanjutnya. Pada makalah ini dijelaskan struktur dan fungsi
masing-masing organel sel serta hubungan antar organel sehingga dapat
bekerja sama membentuk sistem.
1.2.
Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Apakah arti dan fungsi fisiologi tumbuhan ?
2.
Bagaimana aktifitas hidup yang dilakukan oleh tumbuhan ?
3.
Bagimana keterkaitan antara fisiologi tumbuhan dengan cabang ilmu biologi yang lain?
4.
Bagaimana struktur dan fungsi organel-organel sel tumbuhan?
5.
Bagaimana hubungan kerjasama antar organel-organel sel tumbuhan?
1.3.
Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu agar mahasiswa dapat:
1.
Menafsirkan arti dan fungsi fisiologi tumbuhan
2.
Menunjukkan sejumlah aktifitas hidup yang dilakukan oleh tumbuhan
3.
Mengetahui keterkaitan antara fisiologi tumbuhan dengan cabang ilmu biologi yang lain.
4.
Menggambarkan sel tumbuhan eukariotik.
5.
Menghubungkan struktur dan fungsi bagian-bagian sel tumbuhan.
II. PEMBAHASAN
2.1 Fisiologi Tumbuhan
Fisiologi berasal dari bahasa latin, physis berarti alam (nature) dan
logos berarti ilmu. Jadi fisiologi tumbuhan diartikan sebagai ilmu
tentang alam tumbuhan. Pengertian tersebut merupakan pengertian yang
sangat luas tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan masalah botani,
padahal yang dipelajari dalam fisiologi tumbuhan lebih ditujukan pada
berbagai mekanisme atau proses biologis yang terjadi di dalam tumbuhan.
Fisiologi tumbuhan berarti suatu bidang ilmu yang mengkaji
fenomena-fenomena penting di dalam tumbuhan, meliputi:
1)
Aktivitas hidup yang dilakukan oleh tumbuhan.
2)
Proses
dan fungsi yang menyangkut tanggapan tumbuhan terhadap perubahan
lingkungan, dan pertumbuhan serta perkembangannya sebagai hasil dari
respon tersebut.
3)
Fungsi
setiap jenis organ, jaringan, sel, dan organel sel dalam tumbuhan serta
fungsi setiap komponen kimia (ion, molekul atau makromolekul).
Tumbuhan adalah tonggak dari sebagian besar ekosistem terestrial. Kajian
mengenai tumbuhan didorong oleh kombinasi keingintahuan dan kebutuhan.
Keingintahuan mengenai bagaimana tumbuhan bekerja dan kebutuhan
menerapkan pengetahuan ini secara cermat untuk menghasilkan makanan,
pakaian, dan perumahan bagi populasi manusia yang berkembang. Beberapa
hal penting tentang tumbuhan adalah sebagai berikut:
1. Sebagai mahluk hidup, tumbuhan menunjukkan sejumlah aktivitas, yaitu:
a)
Bertukar senyawa kimia dengan lingkungannya, tanpa banyak kehilangan senyawa kimia penyusun tubuhnya.
b)
Menyerap dan menggunakan energi dari luar.
c)
Mensintesis bahan kimia yang diperlukan serta mengganti bahan yang hilang ke lingkungan atau rusak
d)
Sebagian selnya megadakan pembelahan atau penggabungan, kalau tidak akan mati.
2. Beberapa sifat khas tumbuhan adalah melakukan proses fiisiologi yang berbeda dengan mahluk lain, misalnya:
a)
Merupakan mahluk autotrof dalam metabolisme karbon.
b)
Tidak dapat berpindah dan hanya mencapai daerah yang sempit, sehingga hanya mampu menggunakan sebagian kecil lingkungan.
c)
Sangat tergantung kepada bahan mineral dari tanah, sehingga kebutuhan hara tidak banyak jenisnya.
3. Seluruh fungsi tumbuhan dapat dipahami dengan dasar prinsip fisika
dan kimia. Metode-metode yang digunakan dalam fisiologi tumbuhan umumnya
diturunkan dari kima dan fisika. Selain itu, anatomi tumbuhan juga
dipakai dalam mernpelajari fisiologi tumbuhan. Sekarang ini, biologi
molekuler mulai merevolusi kajian tentang tumbuhan, contohnya para ahli
tumbuhan telah menemukan beberapa gen yang mengontroi perkembangan bunga
dan telah mempelajari fungsi-fungsi gen tersebut.
4. Pada organisme hidup, struktur sangat erat kaitannya dengan
fungsi. Takkan ada fungsi kehidupan tanpa adanya struktur gen, enzim,
molekul lain, organel, sel, jaringan, dan organ. Tumbuhan adalah
struktur yang tumbuh sendiri. Melalui proses perkembangan yang meliputi:
pembelahan sel, pembesaran sel, serta spesialisasi sel atau
diferensiasi, suatu tumbuhan bermula dari 1 sel tunggal kemudian menjadi
organisme multiseluler. Selanjutnya, tumbuhan terus tumbuh dan
berkembang sepanjang hidupnya dengan adanya daerah
embrionik (meristem).
5. Tumbuhan tumbuh dan berkembang di lingkungan dan berinteraksi dengan
lingkungan melalui banyak cara, misainya: perkembangan tumbuhan
dipengaruhi oleh suhu, cahaya, gravitasi, angin, dan kelembaban.
Fisiologi tumbuhan sangat penting bagi semua bidang botani terapan,
seperti: agronomi, hortikultura, florikultura, kehutanan, pertamanan,
pemuliaan tanaman, patologi tumbuhan, farmakologi, dan lain-iain. Tugas
utama di masa datang adalah bagaimana usaha kita meningkatkan pangan,
makanan ternak, serat, produksi kayu, dan lain-lain yang menyangkut
kebutuhan hajat hidup manusia.
2.2 Hubungan Fisiologi Tumbuhan dengan Cabang Botani Lainnya
Meluaskan pokok bahasan dalam berbagai bidang ilmu menyebabkan banyak
terjadi daerah tumpang-tindih antar ilmu yang satu dengan ilmu yang
lain. Demikian pula yang terjadi antara fisiologi tumbuhan dengan
beberapa bidang ilmu lainnya, terutama cabang ilmu botani. Sebagai
contoh adalah antara fisiologi tumbuhan dengan ekologi tumbuhan.
Banyak topik yang dikaji dalam bidang fisiologi tumbuhan yang berkaitan
erat dengan bidang ilmu ekologi, misalnya tentang tanggapan tanaman
terhadap perubahan berbagai faktor lingkungan.. Besarnya porsi daerah
tumpang-tindih ini yang disertai dengan pentingnya daerah tumpang-tindih
tersebut yang menyebabkan berkembangnya cabang ilmu baru yang disebut
sebagai ekofisiologi atau fisiollogi lingkungan (environmental
physiology).
Ilmu anatomi tumbuhan juga besar keterkaitan dan sumbangannya bagi
perkembangan fisiologi tumbuhan, misalnya sehubungan dengan pengertian
tentang ultrastruktur membran dan organel-organel sel. Pemahaman tentang
ultrastruktur dan senyawa penyusun membran thilakoid pada khloroplas
mempermudah untuk menerangkan proses perpindahan elektron pada fase
cahaya fotosintesis.
Dari uraian diatas, jelas terlihat keterkaitan antar fisiologi tumbuhan
dengan cabang-cabang botani lainnya. Selain itu fisiologi tumbuhan akan
sangat erat kaitannya dengan ilmu-ilmu dasar yang mendukung, seperti
yang telah disinggung terdahulu, yakni dengan ilmu kimia dan fisika.
2.3 Sel Tumbuhan
Tumbuhan tingkat tinggi tubuhnya tersusun oleh sejumlah sel, baik sel
hidup maupun sel mati. Sel-sel hidup memiliki persamaan dan perbedaan
dalam struktu dan fungsinya. Persamaannya adalah sel itu mempunyai
dinding sel, terisi plasma yang terbungkus oleh membran plasma.
Sedangkan perbedaannya terutama diakibatkan oleh lingkungan dan faktor
genetik, yaitu akibat proses diferensiasi yang mengikuti proses
pembelahan sel.
2.3.1
Dinding Sel
Dinding sel merupakan salah satu ciri sel tumbuhan yang membedakannya
dari sel hewan. Dinding ini melindungi sel tumbuh¬an, mempertahankan
bentuknya, dan mencegah penghisapan air secara berlebihan. Pada tingkat
keseluruhan tumbuhan, dinding yang kuat yang terbuat dari sel khusus
mempertahan¬kan tumbuhan agar tegak melawan gaya gravitasi.
Sel tumbuhan muda pertama-tama mensekresi dinding yang relatif tipis dan
lentur yang disebut dinding sel primer. Di antara dinding-dinding
primer sel-sel yang berdekatan terdapat lamela tengah, lapisan tipis
yang banyak mengandung polisakarida lengket yang disebut pektin. Apabila
selnya telah dewasa dan berhenti tumbuh, sel ini memperkuat dindingnya.
Sebagian sel tumbuhan melakukan hal ini hanya dengan mensekresi
substansi pengeras ke dalam dinding primernya. Sel lain menambahkan
dinding sel sekunder di antara membran plasma dan dinding primer.
Dinding sekunder ini, seringkali menumpuk menjadi beberapa lapisan
berlamina, memiliki matriks kuat dan tahan lama yang sanggup memberi
perlindungan dan dukungan. (Campbell, 2002).

Dinding sel tumbuhan. Sel muda mula-mula membentuk dinding primer
tipis, seringkali ada penambahan dinding sekunder yang lebih kuat di
dalam dinding primer ketika pertumbuhan terhenti. Lamela tengah yang
lengket melekatkan sel-sel yang berdekatan menjadi satu. Dengan
demikian, partisi multilapis di antara sel-sel ini terdiri atas dinding
penghubung yang masing-masing disekresikan oleh selnya sendiri
(Campbell, 2002).
Dinding sel terdiri dari: lamela tengah, dinding primer dan dinding
sekunder. Antara sel-sel yang berdekatan ada lamela tengah yang
merekatkan antara dua dinding sei menjadi satu. Lamela tengah terutama
terdiri dari Ca-pektat berupa gel. Dinding primer adalah lapisan yang
terbentuk selama pembentangan, terdiri dari hemiselulosa, selulosa,
pektin, lemak, dan protein. Dinding sekunder biasanya lebih tebal dari
dinding primer terutama terdiri dari selulosa dan kadang-kadang lignin,
merupakan lapisan yang ditambahkan setelah proses pembentangan dinding
sel selesai.
Tidak semua bagian dinding sel mengalami penebalan dan
terisi plasma (plasmodesmata). Dinding primer memilki sejumlah
daerah penipisan yang disebut noktah. Daerah ini memiliki plasmodesmata
dengan kerapatan tinggi. Plasmodesmata adalah jalinan benang sitoplasma
tipis yang menembus dinding-dinding sel yang bersebelahan,
menghubungkan protoplas sel yang berdampingan. Dengan demikian dinding
sel menjadi berlubang-lubang yang memungkinkan senyawa
kimia melewatinya.
Dinding sel yang berbatasan langsung dengan udara luar sering dilapisi
kutin dan suberin (kutikula). Lapisan ini tidak seluruhnya tertutup
rapat sehingga masih memungkinkan senyawa kimia melewatinya. Dinding sel
berfungsi untuk memberi kekuatan mekanik sehingga sel mempunyai bentuk
tetap serta memberi perlindungan terhadap isi sel, dan karena sifat
hidrofilnya dapat mengadakan imbibisi air serta meneruskan air dan
senyawa yang larut di dalamnya ke protoplas (Hasnunidah, 2007).
2.3.2
Protoplas
Protoplas merupakan bagian yang hidup dari sel tumbuhan, meskipun di
dalamnya juga terdapat berbagai senyawa anorganik. Protoplas terdiri
dari empat bagian utama, yaitu: sitoplasma, nukleus, vakuola dan bahan
ergastik.
1.
Sitoplasma
Sitoplasma merupakan bagian sel yang kompleks, suatu bahan cair yang
mengandung banyak molekul, diantaranya berbentuk suspensi koloid dan
organel-organel yang bermembran. Sitoplasma dan nukleus secara
bersama-sama disebut protoplasma. Beberapa sel tumbuhan juga memiliki
juga zat-zat murni yang tidak hidup disebut bahan ergastik, seperti:
kalsium oksalat, benda-benda protein, gum, minyak, resin.
Sistem endomembran dalam Sitoplasma meliputi retikulum endoplasma, badan
Golgi, selimut inti, dan organel sel serta membran lain (badan mikro,
sferosom dan membran vakuola) yang berasal dari retikulum endoplasma
atau badan Golgi. Sedangkan membran plasma dianggap satuan yang
terpisah, meskipun tumbuh melalui penambahan sejumlah kantung yang
berasal dari badan Golgi.
Mitokondria dan plastida yang diselimuti oleh selapis membran yang halus
dan membran dalam yang melekuk-lekuk juga tidak berhubungan dengan
sistem membran. Demikian pula ribosom, mikrotubul dan mikrofilamen bukan
bagian dari sistem endomembran (Hasnunidah, 2007).
-
Membran Plasma atau Plasmalemma
Membran plasma berfungsi mengatur aliran zat -zat terlarut masuk dan keluar
sel, dan mengatur aliran air melalui osmosis. Membran plasma bersifat
diferensial permeabel, artinya dapat melalukan senyawa kimia tertentu
dan tidak melalukan senyawa lainnya.
Membran plasma merupakan lapisan rangkap lipid dengan bagian:
hidrofilik (suka air) molekul lipidnya berada di permukaan. Bagian
lipofilik (suka lemak), molekul tersebut menghadap ke dalam lapisan
rangkap sehingga menyebabkan adanya ruang yang terang. Molekul protein
yang mencakup 50% bahan membran tenggelam di lapisan rangkap itu, dengan
satu atau kedua ujung menonjol ke salah satu atau kedua permukaan
membran. Kedua permukaan membran berbeda secara khas (Hasnunidah, 2007).
-
Retikulum Endoplasma (ER = Endoplasmic Retikulum)
Pada banyak sel, ER menyerupai kantung kempis yang berlipat-lipat
(disebut sisternae). ER membentuk sistem angkutan untuk berbagai macam
molekul di dalam sel dan bahkan antar sel meialui plasmodesmata.
Sejumlah ribosom sering berasosiasi dengan ER dalam hal sintesis
protein. ER yang ditempeli ribosom disebut ER kasar. ER halus tak
ber-ribosom dan senng berbentuk pipa (Hasnunidah, 2007).
-
Badan Golgi
Dengan mikroskop elektron, badan golgi (diktiosom) terlihat sebagai
tumpukan piring pipih yang berongga di dalamnya (sisternae) dengan
tepian yang menggelembung dan dikelilingi oleh benda bulat-bulat
(vesikel). Badan Golgi berperan dalam pembentukan membran plasma dan
mengangkut enzim yang harus dibuat dalam sel, yang akan menentukan
reaksi kimia yang terjadi dan menentukan struktur dan fungsi sel
(Hasnunidah, 2007).
Gambar 4: Aparatus Golgi
-
Selimut Inti
Inti (nukleus) dikelilingi oleh dua membran unit yang sejajar yang
disebut selimut inti. Ketebalan membran luar sedikit lebih tebal
dibanding membran dalam. Keduanya dipisahkan oleh ruang perinukleus.
Selimut inti mempunyai banyak pori. Membran dalam dan luar menyatu
membentuk pinggiran pori, yang dipertahankan bentuknya oleh suatu bahan
sehingga terjadi struktur yang disebut anulus. ER berhubungan dengan
selimut inti, sedang ruang perinukleus bersambungan dengan ruang di
antara membran sejajar ER (Hasnunidah, 2007).
-
Membran Vakuola atau Tonoplas
Membran vakuola menyerupai plasmalemma, namun berbeda fungsinya dan
sering agak lebih tipis. Tonoplas mengangkut zat terlarut keluar-masuk
vakuola, sehingga mengendalikan potensial air (Hasnunidah, 2007).
-
Badan Mikro
Badan mikro adalah organel bulat yang terbungkus oleh selapis membran,
berbutir-butir di sebelah dalamnya, dan kadang disertai kristal protein.
Dua jenis badan mikro yang penting adalah peroksisom dan glioksisom
yang masing-masing berperan khusus dalam aktivitas kimia sel tumbuhan.
Perpksisom menguraikan asam glikolat yang dihasilkan dari fostosintesis,
mendaur ulang molekul lain kembali ke kloroplas. Glioksisom menguraikan
lemak menjadi karbohidrat selama dan sesudah perkecambahan biji.
Hidrogen peroksida hasil reaksi ini juga diuraikan di dalam glioksisom
(Hasnunidah, 2007).
Gambar 6: Anatomi Peroksisom
-
Sferosom
Sferosom berbentuk bulat dan diselimuti oleh membran unit yang berasal
dari ER, berisi bahan berlemak, dan menjadi pusat sintesis dan
penyimpanan lemak (Hasnunidah, 2007).
-
Rangka Sel
Berkat perkembangan mikroskop elektron, diketahui bahwa mikrotubul dan
mikrofilamen berprotein terdapat di hampir semua sel tumbuhan
eukariotik. Bersama-sama dengan benang-benang penghubung membentuk tiga
sistem rangka sel yang berlainan tapi terintegrasi dengan baik.
Mikrotubul adalah silinder panjang yang berongga terdiri dari molekul
protein bundar yang disebut tubulin. Fungsi mikrotubul diduga berkenaan
dengan gerak yang mengarah , khususnya di kromosom saat sel membelah
atau di organel sel. Gerak itu meliputi pengendalian arah mikrofibril
selulosa pada dinding sel atau gerak sel itu sendiri.
Mikrofilamen merupakan stuktur padat yang lebih kecil, yang bertindak
sendiri atau bersama-sama dengan mikrotubul untuk menggerakkan sel.
Mikrofilamen terdiri dari protein aktin yang juga menjadi kandungan
utama jaringan otot hewan. Fungsi lain mikrofilamen adalah mengatur arah
aliran sitoplasma, kalau arah mikrofilamen berubah maka berubah juga
arah aliran sitoplasma (Hasnunidah, 2007).
-
Ribosom
Sintesis protein merupakan fungsi sel yang vital yang berlangsung di
ribuan ribosom. Ribosom tersebar di sitoplasma atau bergabung dengan ER
kasar di dalam sel, dan selalu di membran rangkap ER di sisi sitosol.
Ribosom juga menempel di membran luar selimut inti di sisi sitosol.
Ribosom nampak sebagai bintik hitam pada mikrograf elektron. Sering juga
membentuk rantai seperti untaian, khususnya dalam pola spiral
(terpilin). Struktur ini dinamakan poliribosom atau polisom. Dalam
ribosom, informasi genetik dari mRNA diterjemahkan menjadi protein
(Hasnunidah, 2007).
Gambar
9. Ribosom. Ribosom terdiri dari subunit besar dan kecil yaitu rRNA dan
protein. Setiap subunit disintesis di dalam nukleolus dan dikeluarkan
melalui pori nukleus ke dalam sitoplasma (Johnson, 2000).
Ribosom merupakan tempat sel membuat protein. Sel yang memiliki laju
sintesis protein yang tinggi secara khusus memiliki jumlah ribosom yang
sangat banyak. Ribosom bebas tersuspensi dalam sitosol, sementara
ribosom terikat dilekatkan pada bagian luar jalinan membran yang disebut
retikulum endoplasmik. Sebagian besar protein yang dibuat oleh ribosom
bebas akan berfungsi di dalam sitosol; contohnya ialah enzim-enzim yang
mengkatalisis proses metabolisme yang bertempat di dalam sitosol
(Campbell, 2002).
-
Mitokondria
Pada mikroskop cahaya, mitokondria terlihat seperti bulatan, batang atau
kawat kecil yang beragam bentuk dan ukurannya. Terbungkus membran
rangkap, permukaan luarnya berlubang-lubang sedang permukaan dalamnya
membentuk tonjolan-tonjolan (kristae) yang masuk ke dalam stroma.
Membran dalam membungkus matriks, dan banyak enzim yang mengendalikan
berbagai tahap dalam respirasi sel khususnya dan metabolisme umumnya
ditemukan di sana atau di dalam matriks. Mitokondria memiliki DNA dan
ribosom kecil di dalam matriksnya, sehingga mampu mensintesis porteinnya
sendiri (Hasnunidah, 2007).
-
Plastida
Plastida adalah organel berbentuk lensa yang terdapat pada semua sel
tumbuhan, diselimuti oleh sistem membran rangkap. Plastida mengandung
DNA dan ribosom yang terbenam dalam matriks cair yang disebut stroma.
Plastida terbentuk dari hasil pembelahan plastida terdahulu atau sebagai
hasil diferensiasi proplastida. Plastida tak berwarna disebut
leukoplas, contohnya: amiloplas yang mengandung butir-butir padi atau
proteinoplas yang mengandung protein cadangan. Ada dua macam plastida
berwarna, yaitu kloroplas yang mengandung klorofil dan berbagai pigmen
yang menyertainya, dan kromoplas yang mengandung pigmen lain
(karotenoid). Plastida terpenting adalah kloroplas, karena menjadi
tempat berlangsungnya fotosintesis.
Kloroplas mengandung suatu sistem mebran yang bernama tilakoid, yang
sering sambung-menyambung membentuk tumpukan membran yang disebut grana.
Grana terbenam dalam stroma. Enzim yang mengendalikan fotosintesis
terdapat di membran tilakoid dan di stroma (Hasnunidah, 2007).
Gambar 11: Kloroplas
2.
Nukleus
Nukleus merupakan pusat kendali pada sel tumbuhan eukariotik. Nukleus
mengendalikan seluruh fungsi sel dengan menentukan berbagai reaksi kimia
dan juga struktur dan fungsi sel. Nukleus merupakan organel berbentuk
bulat atau memanjang yang terbungkus selimut inti. Plasma nukleus
(nukleoplasma) berbutir-butir merupakan sistem koloid, mengandung
kromatin yang pada pembelahan sel berubah menjadi kromosom. Fungsi
kromosom adalah membentuk m-RNA yang mengatur sintesis protein. Di dalam
plasma nukleus juga terdapat nukleolus yang jumlahnya tiap sel khas
untuk tiap jenis. Nukleolus itu padat, bentuknya tak beraturan,
merupakan massa serat dan butiran, dan berwarna gelap. Fungsi nukleolus
adalah untuk sintesis r-RNA dan ribosom (Hasnunidah, 2007).
Nukleus mengandung sebagian besar gen yang mengontrol sel eukariotik
(sebagian gen terletak di dalam mitokondria dan kloroplas). Nukleus ini
umumnya merupakan organel yang paling mencolok dalam sel eukariotik,
rata-rata berdiameter 5 µm. Di dalam nukleus, DNA diorganisasikan
bersama dengan protein menjadi materi yang disebut kromatin. Kromatin
yang diberi warna tampak melalui mikroskop cahaya maupun mikros-kop
elektron sebagai massa kabur. Sewaktu sel bersiap untuk membelah
(bereproduksi), kromatin kusut yang berbentuk benang akan menggulung
(memadat), menjadi cukup tebal untuk bisa dibedakan sebagai struktur
terpisah yang disebut kromosom. Nukleus ini mengontrol sintesis protein
dalam sitoplasma dengan cara mengirim mesenjer molekuler yang berbentuk
RNA. (Campbell, 2002).
Gambar 12: Nukleus
3.
Vakuola
Badan khas di sel tumbuhan selain dinding sel dan plastida adalah
vakuola. Vakuola mengerjakan beberapa fungsi. Bentuk dan ketegangan
jaringan yang hanya memiliki dinding primer adalah akibat adanya air dan
bahan terlarut yang menekan dari dalam vakuola. Tekanan tersebut timbul
karena osmosis. Konsentrasi bahan terlarut di dalam vakuola cukup
tinggi, termasuk garam-garam, molekul-molekul organik kecil, beberapa
protein (enzim) dan molekul-molekul lainnya. Beberapa vakuola mengandung
pigmen yang menimbulkan warna pada banyak bunga atau dauh. Pada
beberapa bagian tumbuhan, vakuola dapat mengandung bahan-bahan yang
mungkin berbahaya bagi sitoplasma.
Sel muda yang aktif membelah di titik tumbuh batang dan akar mempunyai
vakuola sangat kecil. Sebagian besar terbentuk dari ER, lalu tumbuh
bersama sel, mengambil air secara osmosis dan bergabung satu sama lain.
Sel dewasa sering memiliki vakuola yang mengisi 80-90% atau lebih volume
sel, dan protoplasmanya tersisiih hingga hanya berupa lapisan tipis di
antara tonoplas dan plasmalemma. Beberapa sel yang aktif membelah juga
dapat bervakuola besar (Hasnunidah, 2007).
Gambar 13: Vakuola
III. KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan dari makalah “ Fisiologi Tumbuhan dan Sel
Tumbuhan” ini, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.
Fisiologi tumbuhan adalah suatu bidang ilmu yang mengkaji fenomena-fenomena penting di dalam tumbuhan
2.
Fisiologi
tumbuhan mempelajari aktivitas hidup tumbuhan, meng-interpretasikan
proses-proses kehidupannya, dan mempelajari tanggapan tumbuhan terhadap
perubahan lingkungan serta pertumbuhan dan perkembangannya.
3.
Fisiologi
tumbuhan berkaitan erat dengan cabang-cabang ilmu biologi lain seperti
ekologi dan ekofisiologi atau fisiologi lingkungan.
4.
Tumbuhan terdiri atas sel yang memiliki nucleus yang terbungkus oleh membrane atau struktur serupa tapi tanpa membrane.
5.
Sel tumbuhan memiliki beberapa jenis organel yang terbungkus membrane, misalnya kloroplas, mitokondria, nucleus, dan vakuola.
6.
Sebagian besar sel tumbuhan eukariotik diselimuti oleh dinding sel.
DAFTAR PUSTAKA
Agustriana, Rochmah dan Tunjung Tripeni. 2006. Buku Ajar. Fisiologi Tumbuhan I. Universitas Lampung : Bandar Lampung
Campbell, Reece – Mitchell. 2002. Biologi. Erlangga : Jakarta
Hasnunidah, Neni. 2010. Buku Ajar. Fisiologi Tumbuhan. Universitas Lampung : Bandar Lampung
Lakitan, Benyamin. 2001. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta
Salisbury, F.B dan C.W. Ross. Fisiologi Tumbuhan. ITB Bandung : Bandung
Sutrian, Yayan. 1992. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan. Tentang Sel